Kemarin adalah hari ulang tahunku yang ke-38. Namun karena tugas, pagi-pagi sekali pukul 05.00 aku telah meninggalkan rumahku hingga kembali pukul 20.45. Aku meninggalkan anak-anakku masih tidur lelap, dan ketika aku kembali ke rumah anak bungsuku juga telah tidur. Hanya anak perempuanku dan sepupunya yang datang dari Kabanjahe yang belum tidur. Ibunya juga belum pulang dari tempatnya kerja. Anak perempuanku Xeane ketika melihat aku masuk ke rumah, langsung mengejarku, memelukku, dan akhirnya lari lagi mengambil satu bungkusan dari koran bekas, dia mendekapku dan menciumku, "Selamat Ulang Tahun Pak..". Dia memberikan kado yang dibungkus koran bekas tadi. "Dari Kiel juga ada..Buka pa, ada tulisannya", katanya. Aku buka, ada satu beng-beng dan tulisan di kertas putih "Pa Selamat Ulang Tahun, semoga panjang umur, salam manis dari Anne". Hatiku damai sekali, terobati ketika aku melawan macetnya kota Jakarta. Dia juga ingin membuka kado dari adiknya Kiel, namun aku larang, tunggu ada Kielnya aja. Tengah malam pukul 02.00 pagi, anak laki-lakiku bangun dan menghampiri aku di kamarku. Dia masuk dan langsung mendekap aku "Pak Kiel ada kado..", katanya sembari langsung keluar lagi dari kamarku dan mengambil kadonya dekat meja di telepon. Dia memberikanku dan menhyuruh aku juga membacanya, meskipun yang menulis adalah kakaknya sendiri Xeane. "Selamat Ulang tahun, semoga panjang umur, salam manis dari Kiel". Lama kudekap dan kupeluk dia anakku yang berumur empat tahun itu. Aku menjadi terbayang, betapa seharian kemarin dia menunggu aku, ingin mengucap selamat saja susahnya bertemu dengan bapaknya...
Pekerjaan terkadang membuat kita tidak bebas..
Kamis, 10 Juli 2008
Kamis, 03 Juli 2008
Bontang
Di kota inilah aku berada selama empat hari untuk memberikan ceramah tentang pemanfaatan budaya lokal daerah atas undangan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bontang. Lumayan yang hadir PNS, tokoh adat dan masyarakat adat yang ada di sana. Tempatku nginap juga gak kebayang jika aku diinapkan oleh mereka di Hotel Sintuk Bontang, punya Pupuk Kaltim... suatu saat aku ingin lagi ke sana.
Di Samarinda aku istirahat sejenak di Sungai Mahakam. Memang sangat luas, kapal-kapal tanker saja berlabuh disana, namun sedikit kotor dan banyak sampah. Apalagi PON akan berlangsung Juli 2008 disini, maka tak pelak lagi jika aku kesana sedang dilakukan upaya-upaya perbaikan infrastruktur seperti jalan dari Balik Papan menuju Samarinda, Bontang.
Ket. Foto. kiri: Sungai Mahakam
Ket Foto kanan: Bontang Kuala
Jekarta, 4 juli2008.
Minggu, 29 Juni 2008
U are everything 4 me..
Entah apa yang ada di balik tatapan mereka berdua, yang pasti mereka saat ini tambah besar, membuat aku tahu betapa besar rahasia kebesaran Tuhan..Apapun pikiran mereka tentang aku bapaknya yang pasti aku sangat sayang mereka berdua..
Liezsecha Xeane Fhoo br Limbeng
Yehezkiel Lau Xieronimus Limbeng
U are everything 4 me..
Rende Solo
Selama empat hari di Palangkaraya, berita tentang ada saya lihat ada di BorneoTV satu-satunya TV lokal di Kalteng, juga selama dua hari saya lihat foto dia di Kalteng Pos. Sebagai orang Karo saya tertarik mengetahui siapa dia. Selidik-selidik ternyata dia seorang putra Salit, Hatir Sata Tarigan, Ketua DPD Partai Buruh Kalteng, Ketua Komisi II DPRD Kota Palangkaraya, Direktur Umum BoneoTV, Manajer Persepar (Divisi I PSSI). Tiga tahun yang silam juga di Kalimantan Barat ada Tavip Purba anggota DPRD Singkawang dari PDIP teman saya dulu di KM 4 Padang Bulan Medan. "Adi sekalak-sekalak merawa ka nge kalak Karo enda, enggo enterem dekahen enggo ersoali". Seminggu yang lalu juga ketika saya mendarat di bandara Balikpapan, seorang sopir taksi tanya kepada kami, "kalau Karo-Karo itu apa ya..?" Kami jawab salah satu marga orang Karo... kemudian ia berujar lagi.."Ya.. itulah di bandara sana dengan sinaga, banyak tatonya.. semua kenal mereka disana.. Wah, lagi-lagi ada orang Karo yang terkenal, tegantung bidangnya masing-masing.Keterangan foto:
Hatir Sata Tarigan ketika menerima saya di ruang kerjanya di DPRD Palangkaraya Juni 2008.
Senin, 17 Maret 2008
RumahKu IstanaKu

Teringat tadi malam ketika saya mengajari anak saya SD Kelas I untuk menghadapi UTS, mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), tentang Rumahku Istanaku, dengan menyebutkan bagian-bagian rumah, ruang tamu, dapur, kamar mandi, kamar tidur dan sebagainya, yang jauh sekali berbeda dengan rumah-rumah Orang Sumba yang saya temui di NTT...Ternyata rumah itu tidak seperti yang tertulis di buku teks itu, ada berabgai macam rumah yang tidak dapat digeneralisasi...
Sumba, Maret 2007.
Marapu

Ketika aku melangkah di bebatuan rumah-rumah mereka di atas bukit, aku terhenyuh namun bangga bagaimana orang-orang Bondo Kapumbu di Loura, Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur mempertahankan budaya mereka, Marapu..
Mereka lebih kurang 20 KK..
Di depan rumah-rumah mereka ada tiang dari kayu yang disebut dengan KATODA, tempat mereka menyampaikan permintaan kepada Tuhannya.. mereka hidup dari alam dan lingkungan ..
Sumba, Maret 2007.
Minggu, 24 Februari 2008
My family
Langganan:
Postingan (Atom)


